Jumat, 20 Juni 2014

Harapan

terkadang kita inginkan seperti apa yang kita harapkan, tapi Allah selalu memberi bukan yang kita inginkan tetapi itu memang yang terbaik buat kita...
Ketika hati sudah merasakan yang namanya cinta dan berharap untuk bisa mendapatkan cinta itu dan terus berusaha untuk mendapatkan cinta itu tapi kenapa ketika dia sudah di hadapan kita cinta tiba-tiba pergi begitu saja? apa memang itu bukan yang terbaik, apa memang belum saatnya?
dia datang dan membuat hati ini berbunga-bunga tapi dia juga membuat hati ini hancur berkeping-keping. sedih, benci, marah rasa itu semua ada tapi binggung apa yang harus dilakukan ! Hanya bisa terus berharap dan berdoa semoga Allah memberikan terbaik buat diri ini.
Waktu terus berjalan Tuhan sampai kapan diri ini terus menunggu? aku tau Jodoh maut semuanya ada di tanganmu tapi tolong hilangkan keraguan yang ada di hati ini, biarkan aku terus yakin semua akan kau berikan yang terbaik buatku.

Minggu, 19 Februari 2012

Hakikat Wanita Shalihah


WANITA SHALIHAH… Jika kita mendengar dua kata ini, yang terbayang di benak kita adalah seorang wanita berkerudung, menggunakan jubah panjang sampai ujung kaki, bahkan yang menutup mukanya hingga yang terlihat hanyalah dua pasang mata. Apakah itu yang dikatakan  wanita shalihah?? Seperti apakah kriteria wanita shalihah menurut agama Islam?

Jika kita menelaah kembali sejarah wanita sebelum Islam, dimana kedudukan wanita sangat tidak berharga, bahkan sebuah keluarga dianggap hina jika melahirkan seorang bayi wanita.  Pada masa itu wanita sama halnya seperti binatang yang menjijikan. Seorang ayah boleh menjual belikan anak perempuannya, mengubur hidup-hidup anaknya dan yang lebih keji lagi para suami rela membagi istrinya dengan teman-temannya. Bisa kita bayangkan jika Islam tidak datang pada masa itu dan kebiasaan itu masih terjadi pada massa sekarang??

Pernyataan di atas sedikit menggambarkan kita bagaimana Islam menjaga, bahkan menaikkan harkat dan martabat wanita. Di dalam al-Qur’an sangat jelas diungkapkan beberapa kriteria wanita shalihah menurut kacamata Islam yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri  supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. 30:21)
 
Jika kita pelajari makna ayat di atas, kita akan memahami bahwasanya keberadaan kaum  wanita memiliki pengaruh dan manfaat yang sangat besar terhadap kaum pria. Yang mana diantara mereka terbentuk suatu timbal balik yang saling melengkapi satu sama lain. Maka, sangat tidak benar yang dikatakan bangsa-bangsa Jahily (sebelum datang Islam) bahwa keberadaan kaum wanita merupakan suatu musibah yang akan mendatangkan bencana. Karena secara akal sehat, tidak akan terlahir seorang pria tanpa adanya wanita. Karena setiap bayi yang terlahir ke dunia ini adalah berasal dari rahim yang dimiliki seorang ibu. Namun, bukan berarti dengan jasanya kaum wanita yang melahirkan, lantas ia selalu tergolong wanita shalihah. Melainkan, wanita shalihah yang tergolong dalam kategori Islam adalah wanita yang  mampu memposisikan dirinya menjadi tiga karakter, yaitu: menjadi seorang ibu, istri dan sahabat.

Taat kepada Allah swt.

Taat kepada Allah merupakan hal yang sangat urgen yang harus dimiliki wanita shalihah. Karena  kecantikan hakiki seorang wanita dapat dilihat dari ketaatannya kepada Allah swt. Ketaatan kepada Allah dapat berupa keimanan dan mewujudkan keyakinannya dari segala tingkah lakunya, diantaranya: taat terhadap semua aturan yang Dia tetapkan, segera  menyadari kekhilafannya dengan bertaubat, rajin beribadah, berpuasa  sunah dan senantiasa menelaahh ilmu-ilmu agama agar keimanannya selalu bertambah setiap saat.. Inilah cakupan yang amat menyeluruh dari kepribadian wanita shalihah.

Namun, hukum Allah yang kerap kali dilanggar oleh kaum wanita pada zaman ini adalah dalam hal berbusana. Islam telah mengatur etika seluruh ritual kehidupan manusia dari etka beribadah sampai etika berpakaian. Sebagaiman sabda Rasulullah saw.: ”Kaum wanita yang berpakaian tetapi seperti telanjang, meliuk-liukan badannya dan rambutnya disasak, mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan mencium baunya. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak amat jauh”. (HR. Muslim).

Taat kepada Suami

 Wanita yang mampu memelihara rahasia dan harta suaminya tergolong sebagai wanita shalihah.  Karena itu Allah mewajibkan kepada suami untuk memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang..

Rasulullah saw. bersabda: ”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilahkan kepadanya memasuki surga dari pintu mana pun yang ia suka”. (HR. Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ahmad dan Thabrani. Dan dibenarkan oleh Albani).

Sebaliknya durhaka kepada suami akan mendatangkan bencana dari Allah. Baik bencana yang disampaikan melalui perantara malaikat maupun manusia. Diantara sikap taat para istri kepada para suami, adalah meminta izin kepada suami jika hendak keluar rumah, tidak  meminta bercerai tanpa alasan yang dibenarkan agama, menjaga sopan santun dan kehormatan saat keluar rumah, tidak mengeraskan suara melebihi suami, tidak membantah suaminya dalam kebenaran, dan tidak menerima tamu yang dibenci suaminya ke dalam rumah, apalagi bermesraan dengan lelaki lain.

Lemah Lembut dan Pemalu.

Malu merupakan sebagian dari iman. Diriwayatkan pada sebuah hadits Arba’in Nawawy : “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan”. Wanita yang memiliki sifat malu akan selalu mempertimbangkan semua yang akan ia lakukan. Ia senantiasa berfikir dampak dari setiap tingkah lakunya. Hal ini ia lakukan untuk menjaga dan memelihara dirinya dari fitnah dan perbuatan keji. Bahkan sifat sopan dan pemalu ini dijadikan sebagai daya tarik pada bidadari, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an pada penggalan ayat yang artinya:  Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya… (QS. Ar-Rahman :55:56)

Rasulullah saw. Bersabda :”Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR Muslim). Kata perhiasan terkait dengan makna keindahan. Wanita shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya. Wanita yang senantiasa menjaga keindahan digambarkan dalam al-Qur’an yang artinya: Dan (di dalam surga itu) terdapat bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (QS. Al-Waqi’ah:22-23)

Sebaik-baik seorang istri adalah yang jika suami memandangnya, ia memberikan kebahagiaan. Jika suami menyuruhnya, ia mentaatinya. Dan jika sang suami pergi, ia menjaga dirinya dan hartanya. Istri shalihah senantiasa menyenangkan hati suaminya dan menjaga suasana cinta dan kasih sayang tetap bersemi dalam keluarga. Sesuai sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya apabila seorang suami menatap istrinya dan istrinya membalas pandangan (dengan penuh cinta kasih), maka Allah menatap mereka dengan pandangan kasih sayang. Dan jika sang suami membelai tangan istrinya, maka dosa mereka jatuh berguguran di sela-sela jari tangan mereka”.

Wanita shalihah ibarat sekuntum mawar yang datang dari surga, anggun di balik perisai ketegasan, cantik dalam balutan malu, berbinar dalam tunduknya pandangan mata. Ia lembut sekaligus tangguh, ia mempesona meski tak tersentuh, ia serahkan jiwa raga kepada Rabb-nya.

Wanita Shalihah memiliki hati seperti embun yang merunduk tawadhu' di pucuk2 daun. Seperti karang berdiri tegar yang disirami air hujan. Memiliki iman seperti  bintang, terang benderang menerangi kehidupan.

Rabu, 15 Februari 2012

KAUM WANITA DALAM LINTASAN SEJARAH



Pandangan Barat dan Jahiliyah terhadap Kaum Wanita

            Sesungguhnya kedudukan wanita dalam pandangan umat-umat terdahulu (sebelum islam) sangantlah rendah dan hina. Mereka di anggap sebagai manusia yang tidak memiliki hak, jiwa, kemerdekaan dan kemuliaan. Umat-umat tersebut menganggap bahwa wanita adalah sumber malah petaka dan bencana dunia.
           
            Pada masa Romawi wanita banyak mengalami penyiksaan. Terkadang Mereka Harus menahan panasnya Minyak yang di tuangkan ke tubuh mereka yang sudah di ikan di sebuah tiang. Mereka juga terkadang di ikat pada seekor kuda , lalu di seret dengan sekencang kencangnya sampai mati.

Pada Zaman Yunani, Wanita sangat di lecehkan dan di hina. Orang yunani menganggap bahwa wanita adalah kotoran dam merupakan hasil perbuatan syetan.
Wanita sama rendahnya dengan barang dagangan yang bisa di perjual belikan di pasar. Wanita boleh dirampas haknya, tidak perlu mendapatkan warisan dan tidak berhak menggunakan hartanya.

            Orang-orang Yahudi menganggap wanita seperti barang warisan yang dapat diwariskan kepada keluarganya jika sang suami telah meninggal. Mereka menempatkan wanita sebagai pelayan, sang ayah bisa menjualnya dalam hal ini sang wanita tidak memiliki pilihan. Wanita tidak bisa mewarisi apapun, kecuali jika sang ayah tidak memiliki anak laki-laki. Orang yahudi menganggap wanita sebagai laknat dan kutukan karena wanitalah yang telah menyesatkan Adam as.

            Orang-orang Nasrani Memiliki Persamaan dengan orang Yahudi Di dalam menempatkan kedudukan wanita. Mereka juga menetapkan wanita sebagai Pangkal kejahatan. Kesalahan dan dosa. Mereka menganggap wanita itu najis, khususnya pada saan haid. Lebih jahatnya lagi wanita hanyalah sebagai pemuas nafsu lelaki.

            Dalam aturan undang-undang Hammurabi, wanita di anggap tidak lebih dari binatang. Ia tidak mempunyai hak untuk memiliki sesuatu dan menggunakan hartanya. Jika seorang keluarga mempunyai seorang putri maka ia harus menyerahkan putrinya untuk di bunuh atau di perlakukan sesukannya.

            Bagi bangsa india, dalam aturan menu, wanita hanyalah pelayan bagi suami dan ayahnya. Jika suaminya meninggal, ia akan di bakar hidup-hidup dan di kubur bersama suaminya.

            Orang-orang Persi berpendapat bahwa seseorang boleh menikahi ibunya, saudara perempuan kandung, tante, bibi, keponakannya dan wanita-wanita haram lainnya. Pada saat haid, ia akan di asingkan ke tempat yang jau ke luar kota. Tidak seorangpun di perboleh menemui, kecuali pelayan yang bertugas menyiapkan makanan dan minuman.

            Sedangkan pada pandangan orang cina, wanita dianggap sebagai air penyakit yang membasuh kebahagiaan dan harta. Orang berhak menjual istri seperti halnya menjual budak perempuannya.  Jika ada seorang wanita menjadi janda, maka keluarga mendiang suaminya berhak atas dirinya. Jadi ia seperti warisan yang dapat diwariskan. Bahkan seorang suami pun berhak mengubur hidup-hidup suaminya.

Wanita pada masa jahiliyah

Pandangan bangsa Arab pada masa jahiliyah tentang wanita adalah wanita itu bagaikan barang atau budak. Jika suaminya meninggal, wali suami akan datang dan mengenakan pakainnya. Dengan demikian si wanita tidak dapat menikah kecuali dengan persetujuan oleh wali tersebut, kecuali jika ia bisa menebus diri dengan harta.

            Kekejaman Orang-orang jahiliyahTerhadap kaum wanita, Tidak berhenti di situ. Mereka juga tidak membiarkan kaum wanita untuk hidup. Jika seorang istri melahirkan anak perempuan, sang suami akan langsung mengambilmembuatkan lubang lalu menguburkannya hidup-hidup, tanpa memperdulikan jerit tangis sang anaknya. Jika seorang dalam perjalanan, kemudian sang istri melahirkan, maka ibu dan bayi itu akan di tinggalkan, sehingga bayi itu tumbuh besar. Suatu saat bayi tersebut akan diambil lagi, dibuatkan lubang dan di masukkanlah sang anak itu kedalam bubur itu dalam keadaan hidup-hidup, tanpa memperdulikan rasa sakit yang diderita oleh sang anak. Hal itu seperti yang Allah Kisahkan dalam kitab-Nya:


“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, Karena dosa apakah dia dibunuh,” ( QS. At Takwir: 8-9)

                Banyak kalangan istri yang takut akan prilaku kejam ini, maka mereka sebelum melahirkan membuat lubang sendiri agar begitu yang keluar dari rahimnya bayi perempuan, langsung mereka masukkan ke dalam lubang itu agar mereka tidak mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Bahkan adakalanya bayi itu langsung di cekik begitu lahir.

            Karena kebenciannya kepada bayi perempuan, maka seorang ayah akan marah besar bila yang lahir adalah anak perempuan, Wajah mereka akan padam, dunia menjadi sempit dan pandangannya menjadi gelap, sehingga hampir-hampir dia tidak sadar dengan apa yang sedang dihadapinnya. Allah Menggambarkan Tentang Keadaan mereka dalam kitabnya :

“ Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.
Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” ( QS. An Nahl: 58-59)

            Perilaku buruk lain kaum jahiliyah terhadap kaum wanita adalah dijadikan budak-budak wanita mereka untuk melacur sehingga mereka dapat memetik keuntungan dari pelacur itu. Lalu Allah menurunkan Ayat yang melarang akan hal itu:


“dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.” (QS. An Nur: 33)

            Demikianlah kondisi kaum wanita di masa jahiliah, keadaan mereka tidak lebih dari makhluk tanpa harga diri, yang kehilangan hak dan kepemilikannya. Selain itu Al Qur’an juga mengisahkan tentang keburukan akhlak para wanita pada zaman jahiliyah. Wanita mereka suka berdandan  dengan pakaian laki-laki. Sering memamerkan auratnya, senang melacurkan diri dan banyak lagi memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada kaum mukminah agar mereka tidak mengikuti budaya dan tingkah laku jahiliyah. Allah berfirman:

“ Dan hendaklah Kamu menetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingka laku seprti orang-orang jahiliyah yang terdahulu.” ( QS. Al Ahzab: 33)

Selasa, 14 Februari 2012

Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan





Kisah seorang wanita yang bernama ‘Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan “Buyuut Muthma’innah” (rumah idaman) di Radio Qur’an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang membuat para pendengar tidak kuasa  menahan air mata mereka. Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari  sepuluh terakhir di bulan Ramadhan lalu (tahun 2011). Berikut ini kisahnya –sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR Adil Alu Abdul Jabbaar- :

Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan ‘Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur’an Saudi “Buyuut Muthma’innah”. Ia bertutur tentang dirinya:
“Umurku sekarang 28 tahun, seorang wanita yang cantik dan kaya raya, ibu seorang putri yang berumur 9 tahun yang bernama Mayaa’. Kalian telah berbincang-bincang tentang penyakit kanker, maka izinkanlah aku untuk menceritakan kepada kalian tentang kisahku yang menyedihkan….dan bagaimana kondisiku dalam menghadapi pedihnya kankerku dan sakitnya yang berkepanjangan, dan perjuangan keras dalam menghadapinya. Bahkan sampai-sampai aku menangis akibat keluhan rasa sakit dan kepayahan yang aku rasakan. Aku tidak akan lupa saat-saat dimana aku harus menggunakan obat-obat kimia, terutama tatkala pertama kali aku mengkonsumsinya karena kawatir dengan efek/dampak buruk yang timbul…akan tetapi aku sabar menghadapinya..meskipun hatiku teriris-iris karena gelisah dan rasa takut. Setelah beberapa lama mengkonsumsi obat-obatan kimia tersebut mulailah rambutku berguguran…rambut yang sangat indah yang dikenal oleh orang yang dekat maupun yang jauh dariku. Sungguh…rambutku yang indah tersebut merupakan mahkota yang selalu aku kenakan di atas kepalaku. Akan tetapi penyakit kankerlah yang menggugurkan mahkotaku…helai demi helai berguguran di depan kedua mataku.

Pada suatu malam datanglah Mayaa’ putriku lalu duduk di sampingku. Ia membawa sedikit manisan (kue). Kamipun mulai menyaksikan sebuah acara di salah satu stasiun televisi, lalu iapun mematikan televisi, lalu memandang kepadaku dan berkata, “Mama…engkau dalam keadaan baik..??”. Aku menjawab, “Iya”. Lalu putriku memegang uraian rambutku…ternyata uraian rambut itupun berguguran di tangan putriku. Iapun mengelus-negelus rambutku ternyata berguguran beberapa helai rambutku di hadapannya. Lalu aku berkata kepada putriku, “Bagaimana menurutmu dengan kondisiku ini wahai Mayaa’..?”, iapun menangis. Lalu iapun mengusap air matanya dengan kedua tangannya, seraya berkata, “Waha mama…rambutmu yang gugur ini adalah amalan-amalan kebaikan”, lalu iapun mulai mengumpulkan rambut-rambutku yang berguguran tadi dan meletakkannya di secarik tisu. Akupun menangis melihatnya hingga teriris-iris hatiku karena tangisanku, lalu aku memeluknya di dadaku, dan aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkan aku dan memanjangkan umurku demi Mayaa’ putriku ini, dan agar aku tidak meninggal karena penyakitku ini, dan agar Allah menyabarkan aku menahan pedihnya penyakitku ini….
Keeseokan harinya akupun meminta kepada suamiku alat cukur, lalu akupun mencukur seluruh rambutku di kamar mandi tanpa diketahui oleh seorangpun, agar aku tidak lagi sedih melihat rambutku yang selalu berguguran… di ruang tamu…, di dapur…di tempat duduk…di tempat tidur…di mobil…tidak ada tempat yang selamat dari bergugurnya rambutku.

Setelah itu akupun selalu memakai penutup kepala di rumah, akan tetapi Mayaa putriku mengeluhkan akan hal itu lalu melepaskan penutup kepalaku. Iapun terperanjak melihat rambutku yang tercukur habis. Ia berkata, “Mama..kenapa engkau melakukan ini ?!, apakah engkau lupa bahwa aku telah berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu, dan agar rambutmu tidak berguguran lagi?!. Tidakkah engkau tahu bahwasanya Allah akan mengabulkan doaku…Allah akan menjawab permintaanku…!!, Allah tidak menolak permintaanku…!!. Aku telah berdoa untukmu mama dalam sujudku agar Allah mengembalikan rambutmu lebih indah lagi dari sebelumnya…lebih banyak dan lebih cantik. Mama…sudah sebulan aku tidak membeli sarapan pagi di sekolah dengan uang jajanku, aku selalu menyedekahkan uang jajanku untuk para pembantu yang miskin di sekolah, dan aku meminta kepada mereka untuk mendoakanmu. Mama…tidakkah engkau tahu bahwasanya aku telah meminta kepada sahabatku Manaal agar meminta neneknya yang baik untuk mendoakan kesembuhanmu??. Mamaa…aku cinta kepada Allah…dan Dia akan mengabulkan doaku dan tidak akan menolak permintaanku…dan Dia akan segera menyembuhkanmu”
Mendengar tuturan putriku akupun tidak kuasa untuk menahan air mataku…begitu yakinnya ia…, begitu kuat dan berani jiwanya…lalu akupun memeluknya sambil menangis…”.
Putriku lalu duduk bertelekan kedua lututnya menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya berdoa agar Allah menyembuhkanku sambil menangis. Ia menoleh kepadaku dan berkata, “Mama..hari ini adalah hari jum’at, dan saat ini adalah waktu mustajaab (terkabulnya doa)…aku berdoa untuk kesembuhanmu. Ustadzah Nuuroh hari ini mengabarkan aku tentang waktu mustajab ini.” Sungguh hatiku teriris-iris melihat sikap putriku kepadaku… Akupun pergi ke kamarku dan tidur. Aku tidak merasa dan tidak terjaga kecuali saat aku mendengar lantunan ayat kursi dan surat Al-Fatihah yang dibaca oleh putriku dengan suaranya yang merdu dan lembut…aku merasakan ketentaraman…aku merasakan kekuatan…aku merasakan semangat yang lebih banyak. Sudah sering kali aku memintanya untuk membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas kepadaku jika aku tidak bisa tidur karena rasa sakit yang parah…akupun memanggilnya untuk membacakan al-Qur’an untukku.

Sebulan kemudian –setelah menggunakan obat-obatan kimia- akupun kembali periksa di rumah sakit. Para dokter mengabarkan kepadaku bahwa saat ini aku sudah tidak membutuhkan lagi obat-obatan kimia tersebut, dan kondisiku telah semakin membaik. Akupun menangis karena saking gembiranya mendengar hal ini. Dan dokter marah kepadaku karena aku telah mencukur rambutku dan ia mengingatkan aku bahwasanya aku harus kuat dan beriman kepada Allah serta yakin bahwasanya kesembuhan ada di tangan Allah.
Lalu aku kembali ke rumah dengan sangat gembira…dengan perasaan sangat penuh pengharapan…putriku Mayaa’ tertawa karena kebahagiaan dan kegembiraanku. Ia berkata kepadaku di mobil, “Mama…dokter itu tidak ngerti apa-apa, Robku yang mengetahui segala-galanya”. Aku berkata, “Maksudmu?”. Ia berkata, “Aku mendengar papa berbicara dengan sahabatnya di HP, papa berkata padanya bahwasanya keuntungan toko bulan ini seluruhnya ia berikan kepada yayasan sosial panti asuhan agar Allah menyembuhkan uminya Mayaa”. Akupun menangis mendengar tuturannya…karena keuntungan toko tidak kurang dari 200 ribu real (sekitar 500 juta rupiah), dan terkadang lebih dari itu.
Sekarang kondisiku –Alhamdulillah- terus membaik, pertama karena karunia Allah, kemudian karena kuatnya Mayaa putriku yang telah membantuku dalam perjuangan melawan penyakit kanker yang sangat buruk ini. Ia telah mengingatkan aku kepada Allah dan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya…sebagaimana aku tidak lupa dengan jasa suamiku yang mulia yang telah bersedekah secara diam-diam tanpa mengabariku yang merupakan sebab berkurangnya rasa sakit yang aku rasakan.
Aku berdoa kepada Allah agar menyegerakan kesembuhanku dan juga bagi setiap lelaki atau wanita yang terkena penyakit kanker. Sungguh kami menghadapi rasa sakit yang pedih yang merusak tubuh kami dan juga jiwa kami…akan tetapi rahmat Allah dan karuniaNya lebih besar dan lebih luas sebelum dan susudahnya”
(Diterjemahkan oleh Firanda Andirja, semoga Allah menyegerakan kesembuhan bagi ukhti ‘Abiir)
Siapakah Wanita yang Mendapat Pujian Dan Wanita yang Dilaknat Allah?



Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka.

Wanita Yang Beriman Sabda Rasulullah s.a.w : "Seutama-utama wanita ahli syurga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim." (HR. Ahmad)


1.Khadijah binti Khuwailid

Beliau hidup dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat didikan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Nabi Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah s.a.w di saat semua orang mendustakan dan menghina beliau.

Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan penghinaan yang dikenakan pada keluarganya.

Peribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Nabi Muhammad sebagai orang yang telah tradisi luhur bangsanya.

Kerana keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya melalui Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.

Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata: "Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan." (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:

"Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengurniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak memburuk-burukannya selama-lamanya."


2.Fatimah Az Zahra

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, puteri wanita terpandang dan mantap agamanya, isteri daripada lelaki ahli syurga iaitu Ali bin Abi Thalib. Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: "Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, bererti menyakitiku." Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta.

Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami. Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.


3.Maryam binti Imran

Beliau merupakan wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapa.

4.Asiah binti Muzahim

Beliau adalah isteri dari seorang penguasa yang zalim iaitu Fir'aun laknatullah 'alaih. Akibat dari keimanan Asiah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya.

Syurga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi yang menyalahi syariat Allah ia telan begitu saja demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir'aun.

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad s.a.w berkata: "Fir'aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir'aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam syurga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal."


Wanita yang durhaka

1. Istri Nabi Nuh
2. Istri Nabi Luth


Mereka merupakan dua orang isteri dari para kekasih Allah yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh kebanyakan daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya.

Maka kesenangan sesaat ini Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Isteri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan isteri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: "Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).

Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga.

Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebahagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat."

Semoga kisah para wanita ini dapat menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk bermuhasabah, sama ada kita termasuk golongan yang mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?

Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah, bukannya menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat.

Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga hendaklah membantu suami menjalankan agamanya. Isteri yang demikian merupakan harta yang paling berharga.

Dari kisah mereka, kita dapat mengambil pelajaran bahawa dalam keadaan bagaimanapun, syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, mahupun orang yang paling istimewa di hati kita.

Oleh itu, kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul 'alamin.

Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.
Kekuatan iman Siti Hajar


 
Dari Syria, Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail, menyusuri padang pasir yang kering dan menyengat. Dalam terik matahari di tengah tengah padang pasir yang kering kerontang, Nabi Ibrahim, menunggang unta bersama Siti Hajar. Perjalanan agak sukar, namun hal itu tidak menghambat perjalanan mereka.
 

Sepanjang perjalanan, dikuatkan hatinya untuk terus bertawakal. Dia yakin, Allah tidak akan menganiaya hamba-Nya. Pasti ada hikmah di balik perintah itu. Berbulan bulan perjalanan, tibalah mereka di Makkah.

Nabi Ibrahim masih juga berjalan hingga mereka tiba di sebuah lembah di tengah tengah padang pasir. Lembah ini sunyi sepi. Sepanjang mata memandang, tak ada pepohonan bahkan mata air sebagai syarat utama kehidupan. Tapi Ibrahim tak punya pilihan lain. Allah telah memilih tempat ini sebagai tempat tinggal Hajar dan anaknya Ismail. Inilah tempat yang ditunjuk Allah menjadi daerah berlindung anak istrinya. Nabi Ibrahim turun dari untanya dan mengikat tali unta di sebatang pokok tamar.

Panas matahari seakan menyengat. Nabi Ibrahim sangat haus, namun ia tidak peduli. Yang difikirkannya, bagaimanakah cara memberitahu isterinya mengenai perintah Allah itu. Sepanjang perjalanan lidahnya seolah olah kelu untuk berkata kata. Selepas Siti Hajar diturunkan,Nabi Ibrahim menurunkan semua perbekalan ala kadarnya untuk Hajar dan Ismail. Dibuatnya atap dedaunan untuk tempat Ismail tidur. Setelah itu diciumnya kening istri yang dicintainya itu. Dengan suara parau, Ibrahim mohon pergi.

“Wahai suamiku, apakah aku akan ditinggalkan bersama anakmu di sini?”

Tanpa memandang wajah isterinya, Nabi Ibrahim hanya mampu menganggukkan kepala. “Oh… kiranya kerana dosaku menyebabkan engkau bertindak begini, ampunkanlah aku. Aku tidak sanggup ditinggalkan di tengah-tengah padang pasir yang kering kerontang ini.”

Nabi Ibrahim menjawab: “Tidak wahai isteriku, bukan karena dosamu…”

Siti Hajar bertanya lagi: “Kalau bukan kerana dosaku, bagaimana dengan anak ini…

Anak ini tidak tahu apa-apa.Gamakkah engkau meninggalkannya?”

Kepiluan dan kesedihan Nabi Ibrahim, hanya Allah yang tahu. Katanya: “Tidak, bukan itu maksudku. Tapi apa dayaku… ketahuilah, ini semua adalah perintah Allah.”

Apabila disebut perintah Allah, Siti Hajar terdiam. Kelu lidahnya untuk terus merayu. Terbayang olehnya penderitaan yang bakal dihadapi sendirian nanti. Dia yakin kalau tidak kerana perintah Allah, mana sanggup suaminya meninggalkan dia serta anaknya di situ.

Siti Hajar berupaya menguatkan tawakkal dan pertolongan kepada Allah. Namun hatinya masih tertanya-tanya, apakah hikmah dibalik perintah Allah itu? Ketika gejolak hatinya semakin memuncak, dengan rahmat Allah, disingkapkan oleh Allah penglihatan Siti Hajar ke suatu masa akan datang. Digambarkan tempat itu nantinya akan didatangi oleh manusia dari seluruh pelosok dunia, yang berduyun-duyun datang untuk membesarkan Allah.

Melihat peristiwa itu, teguhlah hatinya. Cinta dengan Allah, dengan menegakkan agama-Nya, memerlukan pengorbanan. Lalu dengan hati yang berat tetapi penuh keyakinan, Siti Hajar berkata kepada suaminya: “Jika benar ia adalah perintah Allah, tinggalkanlah kami di sini. Aku redha ditinggalkan.” Suara Siti Hajar tabah sambil menyeka air matanya.

Ditabahkan hatinya dengan berkata: “Mengenai keselamatan kami, serahkanlah urusan itu kepada Allah. Pasti Dia akan membela kami. Tidak mungkin Dia menganiaya kami yang lemah ini.”

Siti Hajar menggenggam tangan suaminya. Kemudian diciumnya, minta redha atas segala perbuatannya selama mereka bersama. “Doakanlah agar datang pembelaan Allah kepada kami,” kata Siti Hajar.

Nabi Ibrahim terharu dan bersyukur. Isterinya, Siti Hajar memang wanita terpilih. Dia segera mengangkat tangannya untuk berdoa: “Ya Tuhan kami. Aku tinggalkan anak dan isteriku di padang pasir yang tandus tanpa pohon berkayu dan buah-buahan.

Ya Tuhan kami, teguhkanlah hati mereka dengan mendirikan solat, jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, kurniakanlah rezeki pada mereka daripada buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu.”

Menitis air matanya mendoakan keselamatan anak dan isteri yang dicintai. Hati suami mana yang sanggup meninggalkan anak dan isteri di padang pasir tandus sejauh enam bulan perjalanan dari tempat tinggalnya. Namun atas keyakinan pada janji Allah, ditunaikan juga perintah Allah walaupun risiko yang bakal dihadapi adalah besar.

Selesai berdoa, tanpa menoleh ke arah isteri dan anaknya, Nabi Ibrahim terus meninggalkan tempat itu dengan menyerahkan mereka terus kepada Allah.

Tinggallah Siti Hajar bersama anaknya yang masih merah dalam pelukannya. Diiringi kepergian suaminya dengan linangan air mata dan syukur. Ditabahkan hati untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.

Tidak lama selepas kepergian Nabi Ibrahim, perbekalan makanan dan minuman pun habis. Air susunya juga kering sama sekali.Anaknya Ismail menangis kehausan. Siti Hajar kebingungan. Di mana hendak diusahakannya air di tengah padang pasir yang kering kerontang itu?

Ketika dia mencari-cari sumber air, dilihatnya dari jauh seperti ada air di seberang bukit. Dia berlari ke arah sumber air itu. Tetapi apa yang dilihatnya hanyalah fatamorgana.

Namun Siti Hajar tidak berputus asa. Dari tempat lain, dia melihat seolah-olah di tempat di mana anaknya diletakkan memancar sumber mata air.

Dia pun segera berlari ke arah anaknya. Tetapi sungguh malang, yang dilihatnya adalah fatamorgana. Tanpa disedari dia bolak-balik sebanyak tujuh kali antara dua bukit, Safa dan Marwa untuk mencari sumber air.

Tubuhnya keletihan berlari ke sana ke mari mencari sumber air, namun tiada tanda-tanda dia akan mendapat air. Sedangkan anak yang kehausan itu terus menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya ke bumi. Tiba-tiba dengan rahmat Allah, sedang Siti Hajar mencari-cari air, terpancarlah air dari dalam bumi di ujung kaki anaknya Ismail.

Pada waktu itu gembiranya hati Siti Hajar bukan kepalang. Dia pun mengambil air itu dan terkeluar dari mulutnya, “Zam, zam, zam..” yang bererti, berkumpullah, berkumpullah.

Seolah-olah dia berkata kepada air itu, “Berkumpullah untuk anakku.”
Selepas peristiwa itu, banyak kabilah yang berlalu akan berhenti untuk mengambil air. Ada pula yang terus bermukim di lembah Bakkah (Makkah) kerana dekat dengan sumber air itu. Begitulah kehendak Allah. Sengaja didatangkan sebab musabab untuk menjadikan Islam gemilang dan Makkah menjadi tempat ziarah umat manusia

Senin, 13 Februari 2012

Kami Semua Memerlukanmu-MU



Kami semua Memerlukan engkau ya Allah,
Kami tidak dapat hidup tanpamu ya Allah,
Kalau ada orang yang tidak memerlukan Allah
Kami tidak akan selamat tanpamu,
Kalau ada orang yang tidak memerlukanmu,
artinya dia akan kelaparan tanpa pemberian Allah,
dia akan mati karena tidak dapat nafas dari Allah,
jika sakit siapa yang menyembuhkan, kalau bukan Allah,
kalau ada marabahaya siapakah yang akan melepaskan kalau bukan Allah,


               Kalau tidak perlukan Allah
               Siapa yang hendak berikan pakaian
               siapa yang akan melindungi diri dari kesusahan,
               siapakah yang akan menolong dan
               siapakah yang akan menyelamatkan, kalau bukan Allah,
               karena Allah itu adalah segala-galanya,


Tidak ada satu benda terkecuali 
yang bukan dari kuasa dan pemberian Allah,
Kalau ada yang tidak perlukan Allah,
Artinya dia tidak mau segala-galanya,
kalau Allah bertindak menurut keyakinannya tersebut,
dia tidak ada segala-galanya
Artinya Allah akan ambil segala-galanya darinya,
Hartanya, rumahnya, pakaian, makanan, minuman
    kesehatan, keselamata, waktu istirahanya,
    dan seluruh anggota badan dan nyawanya,
Artinya satu pun sudah tidak wujud lagi padanya



(Abuya Imam Asharari Muhammad At Tamimi)